TANDA-TANDA VITAL

A.    PENGERTIAN
Tanda-tanda ‘vital’, adalah petunjuk penting ‘kondisi kerja’ beberapa bagian tubuh, yang dituangkan dalam bentuk ‘angka’. Berapa angka yang normal sebenarnya sangat bervariasi dari waktu ke waktu, dari jam ke jam, dan dari hari ke hari.

B.     HAL-HAL YANG PERLU DI KAJI

DETAK JANTUNG (per menit):
Merupakan jumlah detakan jantung dalam semenit. Detak jantung ini dipengaruhi antar lain oleh olahraga, penyakit, cedera, dan emosi.
• Bayi baru lahir   : antara 110-180
• Dewasa              : antara 60-100

TEKANAN DARAH
Ada dua angka yang mengukur tekanan darah, misalnya, 130/85. Angka pertama merupakan tekanan systolic, yaitu tekanan saat jantung memompa darah keluar untuk beredar di seluruh tubuh. Yang kedua adalah angka tekanan dastolik, saat jantung dalam posisi relaks, antara berdetak dan diisi kembali olah darah.
(untuk usia di atas 18 tahun)
• normal    : di bawah 130/ di bawah 85 mm Hg
• tinggi     : di atas 139/ di atas 89 mm Hg
• tebaik     : di bawah 120/ di bawah 80 mm Hg
• rendah   : di bawah 90/ di bawah 70 mm Hg

KOLESTEROL
(untuk usia di atas 19 tahun)
• Total kolesterol :    Normal       : di bawah 200 mg/dl
                                  Tinggi         : di atas 239 mg/dl
• Kadar LDL berbahaya              : di atas 160
• Ambang batas                           : 130-160
• HDL:                  Normal           : 35-59 mg/dl
                              Rendah           : di bawah 35 mg/dl
•’Kolesterol baik’ atau HDL berfungsi membantu tubuh mencegah terjadinya penyakit
   pembuluh darah. Kadar HDL anda sebaiknya paling sedikit sebesar 25% dari total
   kolesterol. Bila kolesterol anda, misalnya 220, maka HDL seharusnya 55 atau lebih.
•’kolesterol jahat’ atau LDL yang tinggi merupakan salah satu factor risiko penyebab
   penyakit pembuluh darah dan gangguan jantung. Semakin tinggi kadar LDL dan total
   kolesterol anda, semakin meningkat pula risiko tersebut.

GULA DARAH
Ada dua cara tes gula darah:
• Tes hemoglobin A1c (hemoglobin A-one-C), untuk mengetahui kadar gula darah
  selama 3 bulan.
-Normal : hasil tes menujukan angka kurang dari 7%
-Bila hasilnya di atas 8% anda perlu ke dokter untuk mendapatkan konsultasi lanjut.
• Tes seketika, menunjukan kadar gula darah and saat itu.
-Normal    : Sebelum makan 80-120 mg/dl
  Setelah seharian terisi makanan 100-140 mg/dl
TEKANAN DARAH
Tekanan darah merujuk kepada tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua ukuran dan biasanya diukur seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung, dan disebut tekanan sistole. Nomor bawah (80) menunjukkan tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah adalah saat Anda istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring.
Tekanan darah dalam kehidupan seseorang bervariasi secara alami. Bayi dan anak-anak secara normal memiliki tekanan darah yang jauh lebih rendah daripada dewasa. Tekanan darah juga dipengaruhi oleh aktivitas fisik, dimana akan lebih tinggi pada saat melakukan aktivitas dan lebih rendah ketika beristirahat. Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda; paling tinggi di waktu pagi hari dan paling rendah pada saat tidur malam hari.
Bila tekanan darah diketahui lebih tinggi dari biasanya secara berkelanjutan, orang itu dikatakan mengalami masalah darah tinggi. Penderita darah tinggi mesti sekurang-kurangnya mempunyai tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat.
PEMBULUH NADI
Lapisan terluar disebut tunika adventitia yang tersusun dari jaringan penyambung. Di lapisan selanjutnya terdapat tunika media yang tersusun atas otot polos dan jaringan elastis. Lapisan terdalam adalah tunika intima yang tersusun atas sel endothelial. Darah mengalir di dalam pada lumen.
Jenis pembuluh nadi
Terdapat beberapa jenis pembuluh nadi pada tubuh:
Arteri pulmonaris
Pembuluh ini membawa darah yang telah dideoksigenasi yang baru saja dialirkan dari paru-paru.
Arteri sistemik
Arteri sistemik membawa darah menuju arteriol dan kemudian ke pembuluh kapiler, di mana zat nutrisi dan gas ditukarkan.
Aorta
Aorta adalah pembuluh nadi terbesar dalam tubuh yang keluar dari ventrikel jantung dan membawa banyak oksigen.
Arteriol
Arteriol adalah pembuluh nadi terkecil yang berhubungan dengan pembuluh kapiler.
Pembuluh kapiler
Pembuluh ini bukan pembuluh nadi sesungguhnya. Di sinilah terjadinya pertukaran zat yang menjadi fungsi utama sistem sirkulasi. Pembuluh kapiler adalah pembuluh yang menghubungkan cabang-cabang pembuluh nadi dan cabang-cabang pembuluh balik yang terkecil dengan sel-sel tubuh. Pembuluh nadi dan pembuluh balik itu bercabang-cabang, dan ukuran cabang-cabang pembuluh itu semakin jauh dari jantung semakin kecil. Pembuluh kapiler sangat halus dan berdinding tipis.

Pemeriksaan suhu akan memberikan tanda suhu inti yang secara ketat dikontrol karena dapat dipengaruhi oleh reaksi kimiawi.
pemeriksaan suhu tubah dapat dilakukan di beberapa tempat yaitu
 1.ketiak
 2.mulut
 3.anus
nilai setandar untuk mengetahui batas normal suhu tubuh manusia dibagi menjadi empat yaitu :
   * Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C
   * Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 - 37,5°C
   * Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 - 40°C
   * Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C
Faktor Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh manusia dapat di uraikan sebagai berikut :
   1. Kecepatan metabolisme basal
  Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.
   2. Rangsangan saraf simpatis
  Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.
   3. Hormone pertumbuhan
  Hormone pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
   4. Hormone tiroid
  Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
   5. Hormone kelamin
  Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6°C di atas suhu basal.
   6. Demam ( peradangan )
  Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10°C.
   7. Status gizi
  Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
   8. Aktivitas
  Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 °C.
   9. Gangguan organ
  Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.
   10. Lingkungan
  Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh.


sumber : berbagai sumber

ASD


PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat. Defek ini dapat berupa defek sinus venousus di dekat muara vena kava superior, foramen ovale terbuka pada umumnya menutup spontan setelah kelahiran, defek septum sekundum yaitu kegagalan pembentukan septum sekundum dan defek septum primum adalah kegagalan penutupan septum primum yang letaknya dekat sekat antar bilik atau pada bantalan endokard.
Macam-macam defek sekat ini harus ditutup dengan tindakan bedah sebelum terjadinya pembalikan aliran darah melalui pintasan ini dari kanan ke kiri sebagai tanda timbulnya sindrome Eisenmenger. Bila sudah terjadi pembalikan aliran darah, maka pembedahan dikontraindikasikan. Tindakan bedah berupa penutupan dengan menjahit langsung dengan jahitan jelujur atau dengan menambal defek dengan sepotong dakron.

Kelainan ini dibedakan dalam 3 bentuk anatomis, yaitu
a.       Defek Sinus Venosus Defek ini terletak di bagian superior dan posterior sekat, sangat dekat dengan vena kava superior. Juga dekat dengan salah satu muara vena pulmonalis.
b.      Defek Sekat Sekundum  Defek ini terletak di tengah sekat atrium. Defek ini juga terletak pada foramen ovale.
c.       Defek Sekat Primum  Defek ini terletak dibagian bawah sekat primum, dibagian bawah hanya di batasi oleh sekat ventrikel, dan terjadi karena gagal pertumbuhan sekat primum. Defek sekat primum dikenal dengan ASD I,  Defek sinus Venosus dan defek sekat sekundum dikenal dengan ASD II

B.     Etiologi
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD.
Faktor-faktor tersebut diantaranya :

Faktor Prenatal
1.      Ibu menderita infeksi Rubella
2.      Ibu alkoholisme
3.      Umur ibu lebih dari 40 tahun
4.      Ibu menderita IDDM
5.      Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu
6.      Upaya Aborsi

Faktor genetik
1.      Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
2.      Ayah atau ibu menderita PJB
3.      Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down
4.      Lahir dengan kelainan bawaan lain

C.     Patofiologi
Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah yang mengandung oksigen dari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. Aliran yang melalui defek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut. Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikel kiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibat volume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Jika  complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan bisa berkurang. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.

D.    Manifestasi klinis
             Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala (asimptomatik) pada masa kecilnya, kecuali pada ASD besar yang dapat menyebabkan kondisi gagal jantung di tahun pertama kehidupan pada sekitar 5% penderita. Kejadian gagal jantung meningkat pada dekade ke-4 dan ke-5, dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung (aritmia).
             Gejala yang muncul pada masa bayi dan kanak-kanak adalah adanya infeksi saluran nafas bagian bawah berulang, yang ditandai dengan keluhan batuk dan panas hilang timbul (tanpa pilek). Selain itu gejala gagal jantung (pada ASD besar) dapat berupa sesak napas, kesulitan menyusu, gagal tumbuh kembang pada bayi atau cepat capai saat aktivitas fisik pada anak yang lebih besar
Secara garis besar tanda dan gejala dari anak yang mengalami Atrial septal defect adalah
1.      Sering mengalami infeksi saluran pernafasan
2.      Dispneu (kesulitan dalam bernafas)
3.      Kesulitan makan
4.      Sering pingsan
5.      Keletihan
6.      Palpitasi
7.      Sianosis


Kegagalan pembentukan  septum interatrial semasa janin  pada Trimester pertama
FAKTOR GENETIK
1.      Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
2.      Ayah atau ibu menderita PJB
3.      Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down
4.      Lahir dengan kelainan bawaan lain




F.      Penatalaksanaan
               Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan penutupan pada defek tersebut, karena ASD tidak dapat menutup secara spontan, dan bila tidak ditutup akan menimbulkan berbagai penyulit di masa dewasa. Namun kapan terapi dan tindakan perlu dilakukan sangat tergantung pada besar kecilnya aliran darah (pirau) dan ada tidaknya gagal jantung kongestif, peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulitlain.
                  Dahulu semua ASD hanya dapat ditangani dengan operasi bedah jantung terbuka. Tindakan operasi ini sendiri, bila dilakukan pada saat yang tepat (tidak terlambat) memberikan hasil yang memuaskan, dengan risiko minimal (angka kematian operasi 0-1%, angka kesakitan rendah). Murphy JG, et.al melaporkan survival (ketahanan hidup) paska opearsi mencapai 98% dalam follow up 27 tahun setelah tindakan bedah, pada penderita yang menjalani operasi di usia kurang dari 11 tahun. Semakin tua usia saat dioperasi maka survival akan semakin menurun, berkaitan dengan sudah terjadinya komplikasi seperti peningkatan tekanan pada pembuluh darah paru.
                  Namun demikian, tindakan operasi tetap memerlukan masa pemulihan dan perawatan di rumah sakit yang cukup lama, dengan trauma bedah (luka operasi) dan trauma psikis serta relatif kurang nyaman bagi penderita maupun keluarganya. Hal ini memacu para ilmuwan untuk menemukan alternatif baru penutupan ASD dengan tindakan intervensi non bedah (tanpa bedah jantung terbuka), yaitu dengan pemasangan alat Amplatzer Septal Occluder (ASO).

TERAPI INTERVENSI NON BEDAH

                  ASO adalah alat khusus yang dibuat untuk menutup ASD tipe sekundum secara non bedah yang dipasang melalui kateter secara perkutaneus lewat pembuluh darah di lipat paha (arteri femoralis). Alat ini terdiri dari 2 buah cakram yang dihubungkan dengan pinggang pendek dan terbuat dari anyaman kawat Nitinol yang dapat teregang menyesuaikan diri dengan ukuran ASD. Di dalamnya ada patch dan benang polyester yang dapat merangsang trombosis sehingga lubang/komunikasi antara atrium kiri dan kanan akan tertutup sempurna.
                  Penutupan ASD secara intervensi non bedah ini menunjukkan hasil yang baik, angka kesakitan periprosedural yang minimal, dapat mengurangi kejadian aritmia atrium dan dapat digunakan pada ASD berdiameter sampai dengan 34 mm. Keuntungan lain adalah risiko infeksi pasca tindakan yang minimal dan masa pemulihan-perawatan di rumah sakit yang lebih singkat, trauma bedah minimal serta secara subyektif dirasakan lebih nyaman bagi penderita dan keluarga karena tidak memerlukan tindakan bedah jantung terbuka. Adapun indikasi dari intervensi ASO sama dengan indikasi operasi, namun harus memenuhi beberapa kriteria khusus
                  Kendala yang masih muncul adalah besarnya biaya yang diperlukan karena harga alat ASO yang relatif mahal, dan belum adanya jaminan pembiayaan kesehatan yang memadai di negara kita. Vida VL, et.al melaporkan bahwa biaya pemasangan ASO di negara berkembang masih lebih tinggi dibandingkan dengan biaya penutupan ASD dengan tindakan bedah konvesional.




Kriteria penderita ASD yang akan dilakukan pemasangan ASO
1.      ASD sekundum
2.      Diameter kurang atau sama dengan 34 mm
3.      Flow ratio lebih atau sama dengan 1,5 atau terdapat tanda-tanda beban volume pada ventrikel kanan
4.      Mempunyai rim minimal 5 mm dari sinus koronarius, katup atrio-ventrikular, katup aorta dan vena pulmonalis kanan
5.      Defek tunggal dan tanpa kelainan jantung lainnya yang memerlukan intervensi bedah
6.      Muara vena pulmonalis normal ke atrium kiri
7.      Hipertensi pulmonal dengan resistensi vaskuler paru (Pulmonary Artery Resistance Index = PARi) kurang dari 7 - 8 U.m2
8.      Bila ada gagal jantung, fungsi ventrikel (EF) harus lebih dari 30%.

Operasi harus segera dilakukan bila:
1.      Jantung sangat membesar
2.      Dyspnoe d’effort yang berat atau sering ada serangan bronchitis.
3.      Kenaikan tekanan pada arteri pulmonalis.

Bila pada anak masih dapat dikelola dengan digitalis, biasanya operasi ditunggu sampai anak mencapai umur sekitar 3 tahun.
1.      Opersi pada ASD I tanpa masalah katup mitral atau trikuspidal mortalitasnya rendah, operasi dilakukan pada masa bayi.
2.      ASD I disertai celah katup mitral dan trikuspidal operasi paling baik dilakukan umur antara 3-4 tahun.
3.      Apabila ditemukan tanda – tanda hipertensi pulmonal, operasi dapat dilakukan pada masa bayi untuk mencgah terjadinya penyakit vaskuler pulmonal.
4.      Terapi dengan digoksin, furosemid dengan atau tanpa sipironolakton dengan pemantauan elektrolit berkala masih merupakan terapi standar gagal jantung pada bayi dan anak.

Asuhan Keperawatan
A.    Pengkajian
a.       Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.
b.      Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.
c.       Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:

1.      Inspeksi :
a.       Status nutrisi¬¬ – Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung.
b.      Warna – Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit jantung.
c.       Deformitas dada – Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.
d.      Pulsasi tidak umum – Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
e.       Ekskursi pernapasan – Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya dengkur ekspirasi).
f.       Jari tabuh – Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.
g.      Perilaku – Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenis penyakit jantung.


2.      Palpasi dan perkusi :
a.       Dada – Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi)
b.      Abdomen – Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.
c.       Nadi perifer – Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan ketidaksesuaian.
3.      Auskultasi
a.       Jantung – Mendeteksi adanya murmur jantung.
b.      Frekwensi dan irama jantung – Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.
c.       Paru-paru – Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
d.      Tekanan darah – Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)
e.       Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian – mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, fluoroskopi, ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah), kateterisasi jantung.

B. Rencana asuhan keperawatan
1.      Diagnosa keperawatan : Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
            Tujuan : Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung.
            Kriteria hasil :
a.       Frekwensi jantung, tekanan darah, dan perfusi perifer berada pada batas normal sesuai usia.
b.      Keluaran urine adekuat (antara 0,5 – 2 ml/kgbb, bergantung pada usia )
                    Intervensi keperawatan/rasional
a.       Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.
b.      Beri obat penurun afterload sesuai program
c.       Beri diuretik sesuai program

2.      Diagnosa keperawatan : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen
      Tujuan : Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress
                  tambahan.
            Kriteria hasil :
a.       Anak menentukan dan melakukan aktivitas yang sesuai dengan kemampuan.
b.      Anak mendapatkan waktu istirahat/tidur yang tepat.
            Intervensi keperawatan/rasional
a.       Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan.
b.      Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.
c.       Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
d.      Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.
e.       Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.
f.       Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.

3.       Diagnosa keperawatan : Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan; isolasi sosial.
            Tujuan :
a.       Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan.
b.      Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan usia
            Kriteria hasil :
a.       Anak mencapai pertumbuhan yang adekuat.
b.      Anak melakukan aktivitas sesuai usia
c.       Anak tidak mengalami isolasi sosial

            Intervensi Keperawatan/rasional
a.         Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.
b.        Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.
c.         Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.
d.        Dorong aktivitas yang sesuai usia.
e.         Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.
f.         Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.


4.       Diagnosa keperawatan : Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
            Tujuan : Klien tidak menunjukkan bukti-bukti infeksi
            Kriteria hasil : Anak bebas dari infeksi.
            Intervensi Keperawatan/rasional
a.       Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi
b.      Beri istirahat yang adekuat
c.       Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.

5.       Diagnosa Keperawatan : Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi
        Tujuan : Klien/keluarga mengenali tanda komplikasi secara dini.
                    Kriteria hasil :
a.       Keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi dan melakukan tindakan yang tepat.
b.      Klien/keluarga menunjukkan pemahaman tentang tes diagnostik dan pembedahan.
                    Intervensi Keperawatan/rasional
a.       Ajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi :
Gagal jantung kongestif :
§  Takikardi, khususnya selama istirahat dan aktivitas ringan.
§  Takipnea
§  Keringat banyak di kulit kepala, khususnya pada bayi.
§  Keletihan
§  Penambahan berat badan yang tiba-tiba.
§  Distress pernapasan
§  Toksisitas digoksin
§  Muntah (tanda paling dini)
§  Mual
§  Anoreksia
§  Bradikardi.
§  Disritmia
§  Peningkatan upaya pernapasan – retraksi, mengorok, batuk, sianosis.
§  Hipoksemia – sianosis, gelisah.
§  Kolaps kardiovaskular – pucat, sianosis, hipotonia.

b.      Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik
§   Tempatkan anak pada posisi lutut-dada dengan kepala dan dada ditinggikan.
§   Tetap tenang.
§   Beri oksigen 100% dengan masker wajah bila ada.
§   Hubungi praktisi
c.       Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga.
d.      Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur.
e.       Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.
f.       Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan.

6.       Diagnosa Keperawatan : Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD)
            Tujuan :
a.       Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas
b.      Klien menunjukkan perilaku koping yang positif

Kriteria hasil :
a.            Keluarga mendiskusikan rasa takut dan ansietasnya
b.           Keluarga menghadapi gejala anak dengan cara yang positif

Intervensi Keperawatan/rasional :
a.       Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.
b.      Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.
c.       Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.
d.      Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak.

A.    Evaluasi
Proses : langsung setalah setiap tindakan
Hasil : tujuan yang diharapkan
1.           Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan usia
2.           Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia
Anak bebas dari komplikasi pascabedah



sumber: berbagai sumber